Archive for the ‘Bali Corner’ Category

Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi adalah hari pergantian tahun Saka (Isakawarsa) yang dirayakan setiap satu tahun sekali yang jatuh pada sehari sesudah tileming kesanga pada tanggal 1 sasih Kedasa. Secara lebih jelas, arti perayaan nyepi dijelaskan pada tajuk lain.
Kegiatan dalam menyambut Hari Raya Nyepi ini ada dua macam yaitu:
1. Sehari sebelum hari raya Nyepi, tepat pada bulan mati (tilem) melaksanakan upacara Bhuta Yadnya (mecaru).
2. Pada hari raya Nyepi yaitu awal tahun baru Saka yang jatuh pada tanggal 1 sasih Kedasa dilaksanakan upacara Yoga Samadhi.

Ada empat berata pantangan yang wajib diikuti pada saat hari raya Nyepi, disebut Catur Berata Penyepian, yaitu:
1. Amati Geni   (berpantang menyalakan Api)
2. Amati Karya (menghentikan segala aktifitas)
3. Amati Lelangunan (berpantangan menghibur diri dan kesenangan)
4. Amati Lelungan (berpantang bepergian)

Dalam kesenyapan hari suci Nyepi ini kita mengadakan mawas diri, menyatukan pikiran, serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakikat keberadaan diri kita dan inti sari kehidupan semesta. Lakukan Berata penyepian upawasa (tidak makan dan minum), mona brata (tidak berkomunikasi), dan jagra (tidak tidur).
Keesokan harinya yaitu hari raya Ngembak Geni, segenap isi rumah keluar pekarangan dan bermaaf-maafan dengan tetangga dan handai tolan yang ditemui, dalam suasana batin yang telah bersih dan dipenuhi kebijaksanaan.

Hari Raya Saraswati

saraswatiSaraswati adalah dewi yang dipuja dalam agama weda. Nama Saraswati tercantum dalam Regweda  dan juga dalam sastra Purana (kumpulan ajaran dan mitologi Hindu). Ia adalah dewi ilmu pengetahuan dan seni. Saraswati juga dipuja sebagai dewi kebijaksanaan.

Dalam aliran Wedanta, Saraswati di gambarkan sebagai kekuatan feminin dan aspek pengetahuan — sakti — dari Brahman. Sebagaimana pada zaman lampau, ia adalah dewi yang menguasai ilmu pengetahuan dan seni. Para penganut ajaran Wedanta meyakini, dengan menguasai ilmu pengetahuan dan seni, adalah salah satu jalan untuk mencapai moksa, pembebasan dari kelahiran kembali.

Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni, dirayakan oleh umat Hindu di Bali]], yang jatuh pada hari Saniscara (Sabtu) Umanis (Legi), wuku Watugunung. Perayaan ini dilaksanakan setiap 210 hari (atau 7 bulan menurut kalender Bali), sebagai penghormatan kepada dewi ilmu pengetahuan dan seni.

Hari Raya Saraswati yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 20 Februari 2010.

Melasti

MelstiHari Kamis tepatnya tanggal 09 april 2009, tepat purnama kedasa (ke sepuluh) masyarakat blahbatuh tua ( katanya orang) termasuk desa kelahiran saya desa bona melakukan upacara melasti. Memang Melasti di deaerah ini tergolong unik karena dilaksanakan setelah upacara / hari raya nyepi tepatnya pada saat purnama kedasa. Memang ini sudah dilakukan secara turun temurun jadi tidak berani untuk merubahnya seperti didaerah lain yang melasti dilaksanakan beberapa hari sebelum hari raya nyepi. Melasti merupakan upacara penyucian di pantai.

MelstiMelasti kali ini diadakan di pantai sukeluwih tepatnya sebelahan dengan pantai saba, Dan diikuti oleh beberapa desa pekraman yang berada di wilayah blahbatuh. Untuk tahun ini melasti dilaksanakan saat sore hari tepatnya pukul 14.00 karena pada hari ini dilaksanakan juga pesta demokrasi di negeri ini. Walaupun siang tidak menurunkan niat masyarakat untuk melaksanakan upacara melasti ini. Diawali kumpul di pura desa masing masing, kemudian berangkat diiringi oleh masyarakat pemedek. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan perjalanan ke pantai sukeluwih gianyar kurang lebih 20 menit. Sesampainya di Jl. Bay Pass Prof.Ida Bagus Mantra suasana begitu ramai bercampur dengan iring-iringan dari desa lain.

Read the rest of this entry »

Galungan and Kuningan


 

gebogan.jpgOccurring once in every 210 days in the pawukon (Balinese cycle of days), Galungan marks the beginning of the most important recurring religious ceremony that is celebrated by all Balinese. During the Galungan period the deified ancestors of the family descend to their former homes. They must be suitably entertained and welcomed, and prayers and offerings must be made for them. Those families who have ancestors that have not yet been cremated, but are still buried in the village cemetery, must make offerings at the graves.




 

 

A Read the rest of this entry »